Table of Contents
Dunia sepak bola internasional kini tengah diguncang oleh gelombang kritik tajam yang datang dari salah satu figur paling berpengaruh di Eropa, Presiden LaLiga, Javier Tebas. Pasca gelaran Piala Dunia 2026 yang menyisakan segudang kontroversi, Tebas secara terbuka melontarkan desakan keras agar Gianni Infantino segera meletakkan jabatannya sebagai orang nomor satu di FIFA. Menurut Tebas, arah kebijakan otoritas sepak bola tertinggi dunia di bawah komando Infantino telah melenceng jauh dari esensi olahraga, berubah menjadi mesin komersial yang justru menggerogoti fondasi industri sepak bola yang selama ini telah dibangun dengan susah payah oleh liga-liga domestik di seluruh dunia.
Awal Mula Ketegangan: Piala Dunia 2026 yang Kontroversial
Piala Dunia 2026, yang digadang-gadang sebagai edisi paling megah dalam sejarah, justru berakhir dengan menyisakan residu kekecewaan bagi banyak pihak. Javier Tebas, yang dikenal sebagai sosok vokal dalam menjaga stabilitas ekosistem liga profesional, menyoroti bahwa turnamen tersebut telah menjadi ajang eksperimen kebijakan yang merugikan.
Salah satu poin yang paling disorot adalah penerapan aturan jeda hidrasi yang dianggap tidak memiliki urgensi medis yang jelas, melainkan hanya sekadar komoditas iklan. Selain itu, perpanjangan durasi jeda babak pertama pada laga final yang mencapai 27 menit—hanya demi pertunjukan hiburan (entertainment)—dianggap sebagai penghinaan terhadap ritme dan fokus para pemain di lapangan. Tebas berargumen bahwa FIFA telah menempatkan pertunjukan panggung di atas integritas kompetisi.
Lebih jauh, rencana ambisius FIFA untuk memperluas jumlah peserta Piala Dunia menjadi 64 tim dipandang Tebas sebagai langkah bunuh diri bagi kesehatan kalender sepak bola global. Penambahan slot ini tidak hanya memicu kelelahan ekstrem pada pemain, tetapi juga mengancam keberlangsungan kompetisi domestik yang menjadi akar utama dari industri sepak bola.
Ancaman Nyata terhadap Industri Sepak Bola
Dalam pernyataan resminya yang dikutip oleh BBC Sport, Tebas menegaskan kekhawatiran mendalamnya: "Mereka menghancurkan industri sepak bola, yang menghasilkan puluhan ribu lapangan kerja, demi sebuah acara yang hanya berlangsung sekitar 40 hari." Analisis Tebas ini menyentuh inti masalah: sepak bola adalah ekosistem yang berkelanjutan. Ketika FIFA memaksakan kehendaknya melalui turnamen-turnamen raksasa yang tidak terencana dengan matang, beban operasional dan fisik jatuh ke pundak klub-klub.
Klub-klub sepak bola, yang merupakan unit bisnis utama dan pemberi kerja bagi ribuan staf, pemain, dan pekerja pendukung, kini harus mengalah pada jadwal FIFA yang semakin padat. Tanpa perlindungan terhadap kalender pertandingan, klub-klub terancam kehilangan performa optimal pemain karena risiko cedera yang meningkat. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh para pemain bintang, tetapi juga pada keberlangsungan finansial klub-klub kecil hingga menengah yang bergantung pada pendapatan liga domestik sepanjang musim.
Krisis Legitimasi: Apakah Infantino Masih Layak?
Ketika ditanya mengenai masa depan Gianni Infantino, jawaban Tebas sangat lugas dan tanpa basa-basi: "Menurut pendapat saya, ya (Infantino harus mundur). Saya pikir masa jabatannya sudah selesai."
Pernyataan ini mencerminkan keresahan banyak pihak di Eropa yang merasa bahwa FIFA di bawah Infantino telah kehilangan kompas moralnya. Sejak menjabat, Infantino memang dikenal sebagai sosok yang sangat pro-ekspansi. Namun, ambisi ini sering kali berbenturan dengan etika sepak bola tradisional. Isu mengenai transparansi pengambilan keputusan, seperti yang terjadi pada kontroversi kartu merah Balogun di Piala Dunia 2026—di mana ketua Komdis FIFA diduga mengambil keputusan secara sepihak—semakin memperkuat narasi bahwa FIFA sedang mengalami krisis tata kelola (governance).
Tebas menyoroti bahwa di bawah kepemimpinan saat ini, FIFA cenderung beroperasi layaknya korporasi privat yang tertutup, bukan sebagai federasi yang melayani kepentingan seluruh anggota. Keputusan-keputusan besar seringkali diambil tanpa konsultasi yang memadai dengan pihak-pihak yang terdampak langsung, seperti liga-liga profesional dan asosiasi pemain (FIFPRO).
Sistem "Satu Arah" dan Sulitnya Perubahan
Meskipun Tebas melontarkan kritik keras, ia juga realistis mengenai situasi politik di dalam tubuh FIFA. Ia mengakui bahwa peluang untuk menggulingkan Infantino dalam waktu dekat sangatlah kecil. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan struktur pemilihan Presiden FIFA yang cenderung mengunci dukungan dari federasi-federasi anggota, terutama dari negara-negara yang mendapatkan keuntungan finansial dari kebijakan ekspansi FIFA.
"Tidak ada kandidat oposisi. Tidak ada yang ingin mencalonkan diri hanya untuk kalah," ungkap Tebas dengan nada pesimis. Sistem pendanaan FIFA melalui program-program pembangunan infrastruktur di negara-negara anggota sering kali dijadikan alat tawar untuk memastikan loyalitas. Akibatnya, suara-suara kritis seperti dari Eropa atau Amerika Latin sering kali teredam oleh blok suara yang lebih besar yang merasa diuntungkan oleh kebijakan Infantino.
Infantino sendiri diprediksi akan kembali melenggang untuk masa jabatan keempat dalam Kongres FIFA yang dijadwalkan pada Maret mendatang. Tanpa adanya lawan sepadan yang mampu menawarkan visi alternatif, FIFA dipastikan akan terus melaju dengan agenda-agenda yang kontroversial di bawah komando yang sama.
Dampak Jangka Panjang bagi Sepak Bola Dunia
Jika tren ini terus berlanjut, apa yang akan terjadi dengan sepak bola? Para pakar industri sepak bola memperingatkan adanya potensi "pecah kongsi" antara liga-liga elit Eropa dengan FIFA. Jika FIFA tetap bersikeras mengabaikan kepentingan klub, bukan tidak mungkin liga-liga besar akan membentuk badan pengelola pertandingan sendiri yang lebih mandiri, atau setidaknya membatasi partisipasi pemain mereka dalam ajang-ajang yang dianggap tidak kompetitif dan merusak kesehatan pemain.
Selain itu, komersialisasi berlebihan dapat mengasingkan basis penggemar tradisional. Ketika sepak bola lebih fokus pada durasi jeda iklan daripada kualitas pertandingan, esensi dari "permainan rakyat" ini akan perlahan memudar. Penggemar tidak lagi melihat sepak bola sebagai olahraga, melainkan produk hiburan yang dipaksakan.
Kesimpulan: Menunggu Reformasi yang Sesungguhnya
Kritik Javier Tebas bukan sekadar serangan personal kepada Gianni Infantino. Ini adalah jeritan dari mereka yang peduli terhadap masa depan sepak bola sebagai institusi sosial dan olahraga. Masalah yang diangkat oleh Tebas—mulai dari jeda hidrasi, perpanjangan waktu istirahat yang tidak perlu, hingga penambahan jumlah peserta Piala Dunia—adalah gejala dari penyakit yang lebih besar: hilangnya empati FIFA terhadap ekosistem yang mereka pimpin.
Meskipun secara politik posisi Infantino tampak kokoh, sejarah mencatat bahwa setiap rezim yang mengabaikan suara-suara dari akar rumput (dalam hal ini, klub dan liga domestik) pada akhirnya akan menghadapi krisis legitimasi yang tak terelakkan. Apakah Kongres FIFA Maret mendatang akan menjadi titik balik, atau justru menjadi paku terakhir pada peti mati keindahan sepak bola tradisional? Hanya waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal yang pasti, Javier Tebas telah berhasil membuka mata publik bahwa ada yang tidak beres di markas besar FIFA di Zurich, dan dunia sepak bola tidak bisa lagi sekadar diam melihat "permainan" ini dirusak demi keuntungan sesaat.
Di tengah ketidakpastian ini, para pecinta sepak bola di seluruh dunia hanya bisa berharap bahwa integritas olahraga akan kembali menjadi prioritas utama, bukan sekadar angka-angka di atas kertas laporan keuangan FIFA. Sepak bola adalah milik semua orang, bukan hanya segelintir elite yang duduk di kursi kekuasaan.
