Totalsports.id – Pelatih Persija Jakarta, Mauricio Souza, telah melayangkan peringatan keras kepada para pemainnya agar mengakhiri setiap pertandingan dengan jumlah sebelas pemain di lapangan. Situasi Persija Jakarta musim ini yang kerap kali harus bermain dengan sepuluh orang karena kartu merah telah menimbulkan kerugian signifikan, mulai dari hilangnya poin hingga kegagalan meraih kemenangan. Data menunjukkan bahwa Persija Jakarta menjadi salah satu tim yang paling banyak mengoleksi kartu merah di liga, sejajar dengan Arema FC dan Persijap Jepara, dengan total delapan kartu merah yang telah dikumpulkan oleh ketiga tim tersebut.
Insiden terbaru yang memperburuk catatan ini adalah kekalahan Persija Jakarta saat bertandang ke markas Bhayangkara Presisi Lampung FC pada Minggu, 5 April 2026. Pertandingan tersebut harus dilakoni Persija dengan sepuluh pemain sejak awal babak kedua, yang akhirnya berujung pada kekalahan tipis dengan skor 3-2. Kejadian ini menjadi perhatian serius bagi Mauricio Souza, yang berharap agar kesalahan serupa tidak terulang kembali, terutama menjelang pertandingan krusial melawan Persebaya Surabaya pada pekan ke-27 Super League 2025/2026. Pertandingan yang dijadwalkan akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Sabtu, 11 April 2026, menjadi momentum penting bagi Macan Kemayoran untuk bangkit dan memperbaiki performa.
Mauricio Souza menekankan pentingnya disiplin dan kontrol emosi bagi para pemainnya. Ia menyatakan, “Kami selalu saling mengingatkan agar kami bisa mengakhiri pertandingan dengan sebelas pemain. Kami tahu betul betapa besarnya kerugian yang harus kami tanggung akibat kartu merah (pemain yang diusir keluar).” Pelatih asal Brasil ini menyayangkan bahwa banyak kartu merah yang diterima pemainnya bukan disebabkan oleh pelanggaran taktis yang murni untuk menghentikan serangan lawan, melainkan karena kegagalan dalam mengendalikan amarah atau emosi sesaat. Situasi ini, menurut Souza, sangat merugikan tim karena selain harus bermain dengan kekurangan pemain, juga berpotensi membuat pemain kunci harus absen di pertandingan selanjutnya akibat akumulasi kartu.
“Dalam beberapa pertandingan kami gagal meraih kemenangan, dan di pertandingan lainnya kami hampir saja kehilangan poin karena adanya kartu merah,” ujar Souza menambahkan, menyoroti dampak langsung dari kartu merah terhadap hasil pertandingan. Ia ingin para pemainnya lebih bijak dalam mengambil keputusan di lapangan, terutama dalam situasi yang memicu emosi. Pengalaman bertanding dengan sepuluh pemain, menurut Souza, mengajarkan tim betapa sulitnya untuk mempertahankan keunggulan atau bahkan sekadar menahan imbang ketika jumlah pemain tidak seimbang.
Pelatih Persija ini juga secara spesifik menyoroti pentingnya menjaga konsentrasi dan fokus selama 90 menit penuh. “Kita harus belajar dari setiap kesalahan. Kartu merah yang didapat karena emosi itu bisa dihindari. Ini bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga mentalitas,” tegas Souza. Ia berjanji akan terus memberikan penekanan kepada para pemain mengenai pentingnya menjaga emosi dan disiplin, serta memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai konsekuensi dari setiap tindakan di lapangan.
Menghadapi Persebaya Surabaya, yang juga dikenal sebagai tim dengan permainan agresif, kontrol emosi akan menjadi kunci utama bagi Persija. Souza berharap, dengan adanya peringatan keras ini, para pemainnya dapat menunjukkan performa yang lebih matang dan bertanggung jawab di lapangan. Ia ingin melihat Persija bermain dengan 11 pemain hingga peluit akhir dibunyikan, demi meraih hasil maksimal dan membalas kekecewaan para Jakmania yang terus memberikan dukungan penuh.
Lebih lanjut, Souza juga mengungkapkan bahwa ia telah melakukan evaluasi mendalam terhadap penyebab seringnya pemain Persija mendapatkan kartu merah. Ia tidak hanya menyalahkan pemain secara individu, tetapi juga melihat adanya kemungkinan faktor eksternal atau kurangnya pemahaman taktis dalam situasi tertentu yang memicu kartu merah. “Kami sedang bekerja keras untuk memperbaiki ini. Setiap pertandingan adalah pelajaran. Kami harus memastikan setiap pemain memahami pentingnya bermain disiplin dan mengendalikan diri, terutama di momen-momen krusial,” jelas Souza.
Peran kapten tim dan para pemain senior juga sangat krusial dalam mengarahkan rekan-rekan mereka untuk tetap tenang dan fokus. Souza percaya bahwa dengan komunikasi yang baik antar pemain di lapangan, serta kepemimpinan yang kuat dari para senior, Persija dapat mengatasi masalah disiplin ini. Ia juga mengapresiasi dukungan The Jakmania yang tidak pernah lelah memberikan semangat, dan ia berharap tim dapat memberikan penampilan terbaik untuk mereka.
Dalam konteks persaingan Super League, setiap poin sangat berharga. Kehilangan poin akibat kartu merah yang tidak perlu adalah pemborosan kesempatan yang sangat disayangkan. Oleh karena itu, peringatan keras dari Mauricio Souza ini menjadi sinyal kuat bahwa Persija Jakarta serius ingin memperbaiki catatan disiplin mereka dan kembali ke jalur kemenangan. Fokus utama kini adalah pada pertandingan melawan Persebaya Surabaya, di mana Persija diharapkan dapat menampilkan permainan yang solid, disiplin, dan penuh semangat juang, tanpa harus kehilangan satu pun pemainnya akibat kartu merah. Dengan begitu, kans untuk meraih kemenangan dan memperbaiki posisi di klasemen akan semakin terbuka lebar.
Statistik kartu merah yang tinggi ini tentu menjadi catatan kelam bagi Persija Jakarta di musim ini. Namun, dengan kepemimpinan Mauricio Souza yang tegas dan adanya kesadaran dari para pemain, diharapkan tren negatif ini dapat segera diakhiri. Pertandingan melawan Persebaya bukan hanya sekadar laga biasa, melainkan ujian nyata bagi kedisiplinan dan mentalitas tim Macan Kemayoran di bawah asuhan pelatih baru mereka. Keberhasilan dalam mengelola emosi di lapangan akan menjadi kunci utama untuk meraih hasil positif dan membuktikan bahwa Persija Jakarta adalah tim yang tangguh dan profesional.
Mauricio Souza juga menekankan pentingnya komunikasi dengan wasit dan pemahaman terhadap aturan permainan. Ia berharap para pemain tidak terpancing provokasi dari lawan dan tetap bermain sesuai dengan semangat olahraga. “Kami ingin memberikan pertandingan yang fair play. Kartu merah yang tidak perlu hanya akan merugikan tim sendiri dan merusak citra klub,” pungkas Souza. Peringatan ini merupakan bentuk kepedulian pelatih terhadap perkembangan tim secara keseluruhan, baik dari segi teknis maupun mental.
Lebih jauh, Souza berencana untuk mengadakan sesi latihan tambahan yang fokus pada simulasi situasi pertandingan yang memicu emosi, agar para pemain terbiasa dalam menghadapi tekanan dan dapat mengambil keputusan yang tepat di bawah kondisi tersebut. Ia juga akan berdiskusi dengan tim pelatih untuk menganalisis setiap insiden kartu merah yang terjadi, guna mengidentifikasi akar masalah dan mencari solusi yang paling efektif.
Harapannya, setelah peringatan keras ini, para pemain Persija Jakarta dapat menunjukkan perubahan signifikan dalam sikap dan perilaku mereka di lapangan. Pertandingan melawan Persebaya Surabaya akan menjadi tolok ukur awal dari efektivitas peringatan ini. Jika Persija mampu bermain dengan 11 pemain hingga akhir laga dan meraih kemenangan, maka dapat dipastikan bahwa pesan dari Mauricio Souza telah tersampaikan dengan baik dan para pemainnya telah belajar dari kesalahan masa lalu.
