Totalsports.id – Tonggak sejarah baru dalam dunia bela diri Indonesia resmi terpancang seiring dengan terpilihnya Sugiono sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) untuk masa bakti 2026-2030. Pemilihan yang berlangsung dalam suasana penuh khidmat dan rasa kekeluargaan pada Musyawarah Nasional (Munas) tersebut menandai berakhirnya era kepemimpinan Prabowo Subianto yang telah menakhodai organisasi ini selama lebih dari dua dekade. Sugiono, yang saat ini juga mengemban amanah sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, terpilih secara aklamasi setelah mendapatkan dukungan penuh dari seluruh pengurus provinsi IPSI di seluruh tanah air. Penunjukan ini bukan sekadar pergantian figur kepemimpinan, melainkan sebuah simbol keberlanjutan visi besar untuk membawa pencak silat—warisan luhur budaya bangsa—ke panggung tertinggi dunia.
Dalam pidato perdananya setelah ditetapkan sebagai ketua terpilih, Sugiono tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan hormatnya yang mendalam kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa dedikasi Prabowo terhadap pencak silat adalah sebuah pengabdian tanpa pamrih yang jarang ditemukan. Prabowo Subianto tercatat telah membina dan mengurus pencak silat sejak tahun 1988, sebuah perjalanan panjang selama 38 tahun yang penuh dengan tantangan dan prestasi. Di bawah tangan dingin Prabowo, PB IPSI bertransformasi dari sekadar organisasi olahraga menjadi wadah pemersatu bangsa yang disegani di kancah internasional. Sugiono menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan Prabowo selama hampir empat daswarsa adalah bukti cinta yang tulus terhadap identitas bangsa, di mana pencak silat tidak hanya dilihat sebagai olahraga fisik, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter dan mentalitas manusia Indonesia.
Transisi kepemimpinan ini dianggap sebagai langkah strategis bagi masa depan pencak silat. Dengan latar belakang Sugiono sebagai diplomat nomor satu Indonesia, harapan agar pencak silat dapat menembus kancah Olimpiade kini semakin terbuka lebar. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia persilatan selama ini adalah pengakuan global yang lebih luas agar dapat dipertandingkan di ajang olahraga multievent terbesar di dunia tersebut. Sugiono menegaskan bahwa diplomasi olahraga akan menjadi salah satu pilar utama dalam masa jabatannya. Sebagai Menteri Luar Negeri, ia memiliki akses dan jaringan internasional yang kuat untuk melobi International Olympic Committee (IOC) serta negara-negara anggota lainnya guna memberikan dukungan agar pencak silat masuk dalam daftar cabang olahraga resmi Olimpiade. Ini adalah cita-cita besar yang telah lama dirintis oleh Prabowo Subianto, dan kini beban tersebut berada di pundak Sugiono untuk diwujudkan.
Selain ambisi internasional, Sugiono juga menyoroti pentingnya internalisasi pencak silat dalam sistem pendidikan nasional. Ia berpandangan bahwa pencak silat harus menjadi warna utama dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Rencana untuk mendorong pencak silat masuk ke dalam kurikulum pendidikan, baik sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib maupun bagian dari mata pelajaran olahraga, menjadi salah satu prioritas kerjanya. Menurutnya, pencak silat mengajarkan nilai-nilai luhur seperti disiplin, sportivitas, penghormatan kepada orang yang lebih tua, serta keberanian dalam membela kebenaran. Dengan mengintegrasikan pencak silat ke sekolah-sekolah, generasi muda Indonesia diharapkan tidak hanya memiliki kebugaran fisik, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan kebanggaan akan budaya aslinya di tengah gempuran budaya asing yang kian masif.
Keberhasilan pencak silat di era kepemimpinan Prabowo Subianto memang sulit untuk ditandingi, namun Sugiono berkomitmen untuk setidaknya mempertahankan dan meningkatkan capaian yang ada. Kita tentu masih ingat bagaimana Indonesia mendominasi perolehan medali emas pada Asian Games 2018, di mana pencak silat menjadi lumbung emas utama bagi kontingen Merah Putih. Prestasi tersebut tidak datang secara instan, melainkan hasil dari pembinaan jangka panjang dan kesejahteraan atlet yang sangat diperhatikan oleh Prabowo. Sugiono berjanji akan melanjutkan pola pembinaan atlet yang sistematis, berbasis sains olahraga (sport science), dan tetap mengedepankan aspek tradisional yang menjadi ruh dari pencak silat itu sendiri. Ia ingin memastikan bahwa setiap pendekar Indonesia yang berlaga di luar negeri merasa didukung sepenuhnya oleh negara, baik dari segi fasilitas latihan maupun jaminan masa depan.
Dalam prosesi pamitnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan yang menyentuh hati para peserta Munas. Beliau menyatakan bahwa meskipun secara organisatoris ia melepaskan jabatan Ketua Umum, namun secara batiniah ia tidak akan pernah meninggalkan pencak silat. Bagi Prabowo, pencak silat adalah nafasnya. Beliau percaya bahwa di bawah kepemimpinan Sugiono, PB IPSI akan semakin modern dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Prabowo juga mengingatkan pentingnya persatuan di antara seluruh perguruan silat yang ada di Indonesia. Baginya, keberagaman aliran dalam pencak silat adalah kekayaan yang harus dijaga, bukan alasan untuk terpecah belah. Sugiono menyambut pesan ini dengan komitmen untuk merangkul seluruh elemen pencak silat, mulai dari perguruan besar hingga perguruan di pelosok daerah, agar tetap harmonis dalam satu naungan PB IPSI.
Keterpilihan Sugiono juga membawa angin segar bagi organisasi internasional pencak silat, yaitu PERSILAT (Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa). Sebagai ketua terpilih PB IPSI, ia secara otomatis akan memainkan peran kunci dalam pengembangan pencak silat di berbagai benua. Saat ini, pencak silat telah berkembang pesat di Eropa, Amerika, dan Afrika, namun standardisasi peraturan dan peningkatan kualitas pelatih serta wasit juri masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Sugiono berencana untuk lebih sering mengadakan pelatihan dan pertukaran atlet antarnegara demi menyeragamkan standar kompetisi global. Hal ini krusial untuk membuktikan kepada dunia bahwa pencak silat adalah olahraga yang profesional, objektif, dan memiliki sistem penilaian yang transparan, yang merupakan syarat mutlak bagi cabang olahraga Olimpiade.
Lebih jauh lagi, Sugiono memandang pencak silat sebagai instrumen “soft power” diplomasi Indonesia. Melalui pencak silat, Indonesia dapat memperkenalkan filosofi perdamaian dan persaudaraan kepada masyarakat dunia. Pencak silat bukan sekadar seni bela diri untuk menyakiti lawan, melainkan seni mengendalikan diri. Filosofi ini selaras dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan mengutamakan perdamaian dunia. Dengan memasyarakatkan pencak silat di luar negeri, secara tidak langsung Indonesia sedang membangun jembatan budaya yang kuat, yang pada akhirnya dapat memperkuat posisi tawar Indonesia di forum-forum internasional.
Di tingkat domestik, penguatan organisasi akan dilakukan Sugiono dengan melakukan digitalisasi data atlet dan perguruan. Ia ingin agar PB IPSI memiliki database yang terintegrasi, memudahkan pemantauan bakat-bakat muda dari seluruh pelosok negeri. Program pencarian bakat atau “talent scouting” akan diperluas melalui kejuaraan-kejuaraan daerah yang lebih rutin dan berkualitas. Sugiono menyadari bahwa bibit-bibit unggul seringkali tersembunyi di daerah-daerah terpencil yang kurang mendapatkan akses informasi dan fasilitas. Oleh karena itu, ia berencana untuk memperkuat peran pengurus provinsi dan pengurus cabang agar lebih aktif dalam membina atlet sejak usia dini.
Tantangan menuju tahun 2030 tentu tidak mudah. Dinamika politik dan ekonomi global dapat mempengaruhi dukungan terhadap olahraga. Namun, dengan sinergi antara pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga serta kementerian terkait lainnya, Sugiono optimis bahwa visi “Pencak Silat Menuju Olimpiade” bukan sekadar mimpi di siang bolong. Dukungan penuh dari Presiden Prabowo Subianto, yang kini memimpin negara, tentu menjadi modal politik dan moral yang sangat besar bagi Sugiono. Hubungan yang harmonis antara pemimpin organisasi olahraga dengan kepala negara diharapkan dapat mempercepat pembangunan infrastruktur olahraga pencak silat yang lebih memadai, seperti pusat pelatihan nasional yang berstandar internasional.
Sebagai penutup dalam rangkaian acara serah terima jabatan tersebut, Sugiono kembali menegaskan bahwa ia adalah murid dari Prabowo Subianto dalam hal kecintaan terhadap tanah air. Ia berjanji akan menjaga amanah ini dengan penuh tanggung jawab. “Saya tidak akan membiarkan api semangat yang telah dinyalakan oleh Bapak Prabowo padam begitu saja. Kami akan membawa pencak silat terbang lebih tinggi, melintasi batas-batas negara, hingga dunia mengakui bahwa pencak silat adalah kontribusi terbesar Indonesia bagi peradaban olahraga dunia,” tegasnya. Dengan kepemimpinan baru ini, masyarakat pencak silat Indonesia menaruh harapan besar agar martabat bangsa semakin terangkat melalui prestasi-prestasi gemilang di masa depan. Selamat bekerja, Sugiono, teruskan perjuangan untuk kejayaan pencak silat Indonesia.
