Table of Contents
Proyek ambisius AC Milan dalam melakukan perombakan besar-besaran di kursi kepelatihan kini menemui titik terang. Setelah melalui proses evaluasi mendalam pasca-kegagalan mencapai target musim ini, manajemen Rossoneri di bawah kendali RedBird Capital Partners dikabarkan telah memberikan lampu hijau untuk merekrut Oliver Glasner. Keputusan ini secara otomatis meminggirkan nama besar lainnya, Mauricio Pochettino, yang sebelumnya sempat disebut-sebut sebagai kandidat utama untuk menahkodai raksasa Serie A tersebut.
Kegagalan Total di Era Transisi
Langkah Milan mencari nakhoda baru merupakan konsekuensi logis dari performa tim yang dianggap tidak stabil. Kepergian Massimiliano Allegri meninggalkan lubang besar dalam struktur kepelatihan, terutama setelah kegagalan tim menembus posisi empat besar Liga Champions—sebuah target mutlak yang ditetapkan oleh pemilik klub. RedBird, melalui Zlatan Ibrahimovic yang kini memegang peran krusial dalam operasional olahraga klub, ditugaskan untuk tidak sekadar mencari pelatih, melainkan sosok yang mampu mengembalikan identitas taktis Milan di pentas domestik maupun Eropa.
Kegagalan musim lalu bukan hanya masalah angka di papan klasemen, melainkan masalah hilangnya daya saing di laga-laga krusial. Milan membutuhkan sosok yang mampu mengintegrasikan talenta muda dengan kedisiplinan taktis, dan di sinilah profil Oliver Glasner muncul sebagai solusi yang dinilai paling tepat oleh manajemen.
Mengapa Oliver Glasner? Analisis di Balik Layar
Pilihan kepada Glasner bukanlah sebuah keputusan impulsif. Laporan dari Gazzetta dello Sport menyebutkan bahwa ada campur tangan dari Ralf Rangnick dalam proses perekrutan ini. Rangnick, yang dikenal memiliki pengaruh besar dalam jaringan sepak bola Eropa dan memiliki koneksi kuat dengan struktur manajemen Milan, merekomendasikan Glasner sebagai arsitek yang mampu memaksimalkan potensi skuad yang ada.
Glasner adalah pelatih dengan filosofi sepak bola modern yang menekankan pada intensitas tinggi, pressing ketat, dan transisi cepat. Keberhasilannya membawa Eintracht Frankfurt menjuarai Liga Europa musim 2021/2022 menjadi bukti sahih bahwa ia memiliki kemampuan untuk meracik tim "underdog" menjadi kekuatan yang ditakuti di Eropa. Kemampuannya beradaptasi dengan berbagai kultur sepak bola—mulai dari Liga Austria, Jerman, hingga Inggris bersama Crystal Palace—menjadikannya sosok yang sangat fleksibel.
Di sisi lain, Mauricio Pochettino yang sebelumnya digadang-gadang akan merapat ke San Siro, kini mulai tersisih. Meskipun memiliki jam terbang tinggi di level elite Eropa bersama Tottenham Hotspur, PSG, dan Chelsea, manajemen Milan kabarnya khawatir dengan profil gaji yang tinggi serta kebutuhan Pochettino akan kontrol penuh dalam kebijakan transfer, sesuatu yang mungkin sulit dipenuhi oleh struktur manajemen RedBird saat ini.
Rekam Jejak dan Metodologi Taktis
Untuk memahami mengapa Milan sangat menginginkan Glasner, kita perlu menengok perjalanan kariernya. Glasner bukanlah pelatih "instan". Ia memulai kariernya dengan membangun fondasi yang kuat di SV Ried dan LASK, di mana ia mengubah tim-tim tersebut menjadi unit yang sangat disiplin.
Di Wolfsburg, ia berhasil mengembalikan klub tersebut ke papan atas Bundesliga. Namun, puncak kariernya terjadi saat membesut Eintracht Frankfurt. Di sana, ia tidak hanya memberikan trofi Eropa, tetapi juga membangun gaya main yang sangat sulit dibendung, terutama melalui serangan balik kilat dan efektivitas bola mati.
Saat menangani Crystal Palace di Premier League, ia membuktikan bahwa ia mampu menangani tekanan kompetisi yang sangat kompetitif. Keberhasilannya mengamankan gelar Conference League, Piala FA, dan Piala Liga Inggris bersama Palace—meskipun beberapa capaian ini merupakan hasil dari pengembangan skuad yang konsisten—menunjukkan bahwa ia adalah pelatih yang mampu memberikan hasil nyata dalam jangka pendek sekaligus membangun fondasi untuk jangka panjang.
Dampak Strategis bagi Skuad AC Milan
Kedatangan Glasner diperkirakan akan mengubah drastis gaya bermain Milan. Jika selama ini Milan sering terjebak dalam pola permainan yang terlalu bergantung pada kreativitas individu—seperti peran Rafael Leao—maka di tangan Glasner, kolektivitas tim akan menjadi prioritas utama.
Para pemain seperti Christian Pulisic, Tijjani Reijnders, dan Fikayo Tomori diprediksi akan menjadi pilar utama dalam skema taktis 3-4-2-1 atau 4-2-3-1 khas Glasner. Fokus pada kebugaran fisik yang ekstrem juga menjadi ciri khas pelatih berusia 51 tahun ini, yang diharapkan bisa mengurangi tingkat cedera pemain yang kerap menghantui Milan di musim-musim sebelumnya.
Selain itu, Zlatan Ibrahimovic kemungkinan besar akan memanfaatkan kedekatan Glasner dengan pasar pemain Bundesliga dan Premier League untuk melakukan rekrutmen yang lebih cerdas. Fokus utama Milan ke depan adalah mencari pemain yang memiliki etos kerja tinggi dan mampu menjalankan instruksi taktis yang kompleks, bukan sekadar nama besar dengan nilai pasar tinggi.
Tantangan dan Ekspektasi Fans
Tentu saja, penunjukan Glasner bukan tanpa risiko. Serie A adalah liga yang sangat taktikal dan berbeda karakteristiknya dengan Bundesliga atau Premier League. Glasner harus belajar dengan cepat untuk menghadapi pelatih-pelatih Italia yang dikenal sangat piawai dalam menutup ruang dan melakukan perang strategi di pinggir lapangan.
Ekspektasi para pendukung Milan atau Milanisti sangatlah tinggi. Mereka menuntut trofi dan pengembalian harga diri klub di kancah Eropa. Glasner akan berada di bawah tekanan besar sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di Milanello. Namun, jika ia mampu menularkan mentalitas juara yang ia tunjukkan saat membawa Frankfurt menaklukkan Barcelona di Camp Nou, maka ia bisa menjadi sosok yang dirindukan publik San Siro.
Masa Depan yang Menentukan
Bagi AC Milan, pemilihan pelatih kali ini adalah langkah krusial untuk menentukan arah klub dalam lima tahun ke depan. Apakah mereka akan kembali menjadi penguasa Italia dan penantang serius di Liga Champions, atau justru terjebak dalam ketidakpastian manajemen?
Dengan memberikan lampu hijau kepada Oliver Glasner, RedBird menunjukkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Mereka memilih pelatih yang "lapar", memiliki metodologi modern, dan terbukti mampu menghasilkan trofi. Sementara itu, bagi Mauricio Pochettino, situasi ini menjadi pengingat bahwa di sepak bola modern, reputasi besar saja tidak cukup; kesesuaian filosofi dan kesediaan untuk bekerja dalam sistem yang ditentukan oleh pemilik klub adalah segalanya.
Musim depan akan menjadi pembuktian bagi semua pihak. Jika kesepakatan ini rampung, Milan tidak hanya mendapatkan pelatih baru, tetapi juga sebuah identitas baru yang diharapkan mampu membawa Rossoneri kembali ke puncak kejayaan yang selama ini dirindukan. Dunia sepak bola akan tertuju pada Milanello, menunggu bagaimana sentuhan dingin Oliver Glasner mengubah warna kompetisi Serie A musim depan. Apakah ia akan menjadi "The Special One" baru di Italia, atau justru akan kesulitan beradaptasi? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: AC Milan telah memilih jalannya, dan itu adalah jalan menuju perubahan total.
